web analytics

Bagaimana Menganalisis Neraca Perusahaan

Neraca adalah laporan keuangan yang memberikan gambaran apa yang dimiliki bisnis (aset) dan apa kewajibannya (utang). Oleh karena itu, neraca dapat memberikan indikasi kesehatan keuangannya. Neraca biasanya dibuat pada akhir periode akuntansi seperti akhir bulan, akhir kuartal, atau akhir tahun.

Pemilik usaha tidak harus menunggu sampai akhir tahun atau akhir dari sebuah siklus operasi untuk menyusun neraca. Pemilik bisnis yang cerdas melihat neraca sebagai alat pengambilan keputusan penting.

Seiring waktu, perbandingan neraca dapat memberikan gambaran yang baik tentang perkembangan kesehatan keuangan bisnis. Dalam hubungannya dengan laporan keuangan lainnya seperti laporan laba-rugi dan laporan arus kas, analisis neraca akan memberikan gambaran menyeluruh atas kinerja perusahaan.

Ada beberapa perhitungan sederhana yang dapat Anda lakukan untuk menganalisis neraca. Perhitungan yang dikenal sebagai rasio keuangan ini mengubah data keuangan mentah dalam neraca menjadi informasi yang
akan membantu Anda dalam mengelola bisnis dan membuat keputusan yang lebih baik. Analisis rasio keuangan juga digunakan oleh investor dan bank untuk mengevaluasi kelayakan penempatan investasi/kredit di bisnis Anda.

Berikut adalah empat rasio keuangan yang dapat dihitung dari sebuah neraca:

1. Rasio Lancar

Rasio lancar (current ratio) atau rasio likuiditas (liquidity ratio) adalah ukuran kekuatan keuangan. Berapa kali jumlah aset lancar melebihi kewajiban lancar mencerminkan solvabilitas bisnis Berikut adalah rumus untuk menghitung rasio lancar:

Rasio Lancar = Total Aset Lancar / Jumlah Kewajiban Lancar

Rasio lancar menjawab pertanyaan, “Apakah bisnis Anda memiliki aset yang cukup saat ini untuk memenuhi jadwal pembayaran kewajiban lancar yang jatuh tempo? Angka 2 untuk rasio lancar biasanya dianggap ideal. Namun tentu saja kecukupan rasio lancar tergantung pada sifat usaha dan karakter dari aset lancar dan kewajiban lancar. Meskipun biasanya jumlah utang yang jatuh tempo relatif pasti, jumlah aset biasanya tidak sedemikian pasti. Kualitas piutang atau nilai tunai dari persediaan, misalnya, bisa tidak pasti.

Rasio lancar dapat ditingkatkan dengan meningkatkan aset lancar atau menurunkan kewajiban lancar, antara lain dengan cara:

  • Membayar utang.
  • Mendapatkan pinjaman jangka panjang (utang dengan jangka waktu lebih dari satu tahun).
  • Menjual aset tetap.
  • Menempatkan kembali laba usaha ke dalam bisnis.

Rasio lancar yang terlalu tinggi mungkin berarti bahwa kas tidak dimanfaatkan secara optimal. Artinya, uang tunai yang ada mungkin lebih baik diinvestasikan ke dalam peralatan atau aset produktif lainnya.

2. Rasio Cepat

Rasio cepat (quick ratio) atau juga disebut rasio “tes asam” (acid test ratio). Ini adalah ukuran likuiditas perusahaan. Rasio cepat hanya menghitung aset lancar perusahaan yang paling likuid dan membaginya dengan kewajiban lancar. Berikut adalah rumus untuk rasio cepat:

Rasio cepat = (Aset Lancar – Persediaan) / Kewajiban Lancar

Aset yang dianggap aset “cepat” adalah uang tunai, saham dan obligasi, dan piutang (semua aset lancar dalam neraca, kecuali persediaan). Rasio cepat mencerminkan kemampuan suatu bisnis dalam memenuhi kewajibannya jika kondisi buruk terjadi. Umumnya, rasio cepat antara 0,50 dan 1 dianggap memuaskan asalkan kualitas piutang tidak buruk.

3. Modal Kerja

Modal kerja harus selalu berupa angka positif. Angka ini digunakan oleh pemberi pinjaman untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan untuk menghadapi masa sulit. Seringkali, pinjaman perjanjian menentukan tingkat modal kerja tertentu yang harus dipertahankan oleh peminjam.

Modal Kerja = Total Aset Lancar – Total Kewajiban Lancar

Rasio lancar, rasio cepat dan modal kerja adalah indikator likuiditas perusahaan.

4. Rasio Utang

Rasio utang (debt ratio) atau rasio jungkitan (leverage ratio) merupakan indikator solvabilitas bisnis, yaitu ukuran dari seberapa besar ketergantungan perusahaan pada pembiayaan utang dibandingkan dengan ekuitas pemilik. Rasio utang dihitung sebagai berikut:

Rasio Utang = Total Kewajiban / Modal Sendiri

Informasi adalah kekuatan. Informasi yang dapat diperoleh dari penyusunan dan analisis neraca adalah salah satu alat manajemen keuangan yang dapat menjadi pembeda antara keberhasilan dan kegagalan.